Sejarah & Silsilah Bupati Sumedang ( Bagian II )

Kiriman : Yudhi S Suradimadja

 

DAFTAR BUPATI SUMEDANG SELENGKAPNYA :

 

1. Pangeran Suriadiwangsa / Rangga Gempol I 1601 – 1625

Anak tiri Prabu Geusan Ulun

2. Pangeran Rangga Gede / Kusumahdinata IV 1625 – 1633

Anak kandung Prabu Geusan Ulun

3. Raden Bagus Weruh / Pangeran Rangga Gempol II. 1633 – 1656

4. Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III 1656 – 1706

5. Dalem Adipati Tanumadja. 1706 – 1709

6. Pangeran Karuhun / Rangga Gempol IV 1709 – 1744

7. Dalem Istri Rajaningrat 1744 – 1759

8. Dalem Adipati Kusumadinata VIII / Dalem Anom 1759 - 1761

9. Dalem Adipati Surianagara II 1761 - 1765

10 Dalem Adipati Surialaga. 1765 – 1773

MASA BUPATI PENYELANG / SEMENTARA

11 Dalem Adipati Tanubaya 1773 – 1775

12 Dalem Adipati Patrakusumah 1775 – 1789

13 Dalem Aria Sacapati. 1789 – 1791

 

 

PEMERINTAHAN BELANDA.

Merupakan Bupati Keturunan Langsung leluhur Sumedang

14 Pangeran Kusumadinata IX / Pangeran Kornel. 1791 – 1828

15 Dalem Adipati Kusumayuda / Dalem Ageung. 1828 – 1833

16 Dalem Adipati Kusumadinata X / Dalem Alit. 1833 – 1834

17 Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 – 1836

18 Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Sugih. 1836 – 1882

19 Pangeran Aria Suriaatmadja / Pangeran Mekkah. 1882 – 1919

20 Dalem Adipati Aria Kusumadilaga / Dalem Bintang. 1919 – 1937

21 Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1937 – 1946

MASA REPUBLIK INDONESIA

22 Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1945 – 1946

23 R. Hasan Suria Sacakusumah. 1946 – 1947

24 R. Tumenggung Mohammad Singer. 1947 – 1949

25 R. Hasan Suria Sacakusumah. 1949 – 1950Bupati yang memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai pangeran Kornel.

Tanda Jasa Pangeran Aria Suriaatmaja ( Pangeran Mekah )

Menyebut Sumedang, berarti juga menyebut kabupaten yang memiliki sejarah panjang tentang para pangeran yang pernah berkuasa di sana. Bila ingin mengetahui lebih detail tentang sejarah leluhur Sumedang dan benda peninggalannya, maka bisa mengunjungi Museum Prabu Geusan Ulun yang terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Sekompleks dengan kantor Bupati Sumedang,

Museum Prabu Geusan Ulun merupakan museum keluarga leluhur Sumedang. Di sana dikoleksi barang-barang pusaka peninggalan para pangeran Sumedang. Menyeberang ke utara, tepatnya ke Alun-alun Sumedang, terdapat pula satu monumen yang memiliki hubungan historis dengan salah satu pangeran Sumedang. Itulah monumen Lingga sebagai tanda jasa pangeran Aria Suriaatmaja.

Pangeran yang berkuasa pada tahun 1882-1919 ini disebut juga pangeran Mekah. Ia dianggap sebagai pangeran yang karismatik dan agamis hingga jasanya diabadikan dengan pendirian Monumen Lingga. Lingga ini juga dijadikan lambang Kabupaten Sumedang.

Pangeran Aria bernama asli Raden Sadeli. Ia putera Pangeran Suria Kusuma Adinata atau Pangeran Sugih yang memerintah tahun 1836-1882.

Setelah wafat, ia diganti oleh Pangeran Aria Suriaatmaja, alias Pangeran Mekah, alias Pangeran Sadeli, yang lahir 11 Januari 1851.

Karier Pangeran Sadeli begitu gemilang. Setelah diangkat menjadi Patih Afdeling Sukapura Kolot di Mangundireja ia diangkat menjadi Bupati Sumedang pada usia 32 tahun, 31 Januari 1883. Pangeran Sadeli terkenal jujur, cerdas, alim, dan selalu berusaha meningkatkan taraf hidup rakyat Sumedang. Atas jasa-jasanya ia dianugerahi :

Bintang Medali Emas (1901, 1903, 1918),

gelar Adipati tahun 1898,

Song-song Kuning (payung emas) tahun 1906,

gelar Aria tahun 1906,

gelar Pangeran tahun 1910,

Bintang Officer Der Orde van Oranye Nassau 1903, dan

Bintang Ridder Der Orde van Den Nederlanchen Leeuw 1918.

Banyaknya tanda jasa tersebut tentunya tidak sembarang dida-pat, karena ternyata Pangeran Aria punya perhatian yang begitu besar terhadap rakyat Sumedang. Ide-ide yang cemerlang direalisasikannya untuk kemajuan di bidang pendidikan, pertanian, peternakan, perikanan, pengairan, kehutanan, kesehatan, politik (meski mendapat hambatan Belanda), dan perekonomian (dengan mendirikan Bank Priyayi 1900). Di bidang pertahanan dan agama, Pangeran Aria paling mendapat tantangan dari Belanda.

Terlalu banyak jasa Pangeran Aria bagi rakyat Sumedang hingga ia dijuluki "Pembesar Keramat", karena memancarkan wibawa dari empat sumber, yaitu: 1. Kedudukan sebagai Bupati, 2. Patuh dan takwa dalam bidang agama, 3. Kepemimpinan yang tinggi, dan 4. Disiplin pribadi.

Pangeran Aria Suriaatmaja pemimpin yang paling taat terhadap agama. Pada tahun 1921 ia bersma istri dan saudara perempuannya berangkat melaksanakan ibadah haji. Ia kemudian wafat di Mekah, 1 Juni 1921, dan dimakamkan di daerah Mullah, Mekah Al-Mukaromah, dekat makam Siti Khadijah, istri Rasulllah saw. Oleh sebab itu, beliau disebut Pangeran Mekah.

Untuk memperingati jasa-jasanya, dibangunlah monumen berbentuk lingga oleh Pangeran Stichting (Yayasan Pangeran), kemudian diresmikan Gubernur Jenderal Mr. D. Fock hari Selasa, 25 April 1929, yang dihadiri oleh Residen Priangan Eyken dan Bupati Sumedang Raden Tumenggung Kusumadilaga (Dalem Bintang), disaksikan para bupati se-Priangan.

Tanda jasa dan kehormatan yang diberikan kepada para bupati lainnya yang berprestasi :

Bupati Galuh (Ciamis), Radén Adipati Aria Kusumadiningrat atau Kanjeng Prebu (1839-1886)

memperoleh payung kebesaran, Songsong Kuning (Besluit Tahun 1874 No.1 ) dan bintang Ridder in de Orde van den Nederlanschen Leeuw (Besluit 18 Februari 1878 No. 7) atas jasanya mendirikan tiga buah pabrik penggilingan kopi, membuat jalan antara Panjalu - Kawali, membangun beberapa irigasi, membuka sawah beribu-ribu bau, dan mendirikan Sakola Sunda di Ciamis dan Kawali (1876).Bupati Bandung, Radém Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874) selain berhasil meingkatkan produksi kopi, ia berjasa dalam memajukan pertanian danpembangunan daerah. Atas jasanya ia mendapat Bintang Ridder in de Orde van den Nederlanschen Leuw, sehingga ia terkenal dengan julukan “Dalem Bintang”.83) Penggantinya, Radén Adipati Kusumadilaga (1874–1893) berhasil memajukan kehidupan ekonomi rakyat melalui koperasi.Bupati Limbangan (Garut), Radén Adipati Wiratanudatar ( 1871-1915) memajukan rakyatnya dalam urusan perdagangan dan bidang pendidikan. Atas jasanya, kedua bupati yang disebut terakhir mendapat penghargaan berupa Bintang Officier in de Orde van Oranje Nassau dan Bintang Mas.

Bupati Bandung Radén Adipati Aria Martanagara (1893-1918) berhasil meningkatkan produksi kopi, memproduksi genteng untuk rumah-rumah penduduk, membangun sejumlah irigasi dan jembatan, mengadakan gerakan penanaman ketela pohon, membuka dan memperluas daerah pesawahan, dan lainlain. Atas jasanya ia memperoleh penghargaan berupa Bintang Mas (Besluit 27 Agustus 1900 No. 2) dan gelar adipati (Besluit 29 Agustus 1906). Dalam bulan yang sama tahun 1909 ia mendapat Songsong Kuning

(Besluit 26 Agustus 1909 No. 30).Dari raja Siam yang berkunjung ke kota Bandung, Radén Adipati Aria Martanagara menerima tanda kehormatan Officier Kroon Orde van Siam.

Bupati ini terkenal pula sebagai bupati pujangga. Karyanya antara lain Babad Sumedang, Wawacan Batara Rama, Wawacan Angling Darma, dan Babad Radén Adipati Aria Martanagara (otobiografi).

Bidang kebudayaan juga mendapat perhatian bupati. Misalnya, Bupati Bandung, Radén Adipati Kusumadilaga (R.A. Wiranatakusumah V) menghidupkan kesenian wayang (wayang golek, wayang kulit, dan wayang wong).

Bupati lainnya yang mendapat tanda penghargaan dari pemerintah kolonial ialah Bupati

Cianjur, Radén Prawiradireja (1863-1910) mendapat gelar adipati.

BupatiSukapura, Radén Wirahadiningrat (1874-1906) juga memperoleh gelar yang sama

dan Bintang Oranye Nassau.

Dalam bidang pendidikan, Bupati Sumedang, Pangéran Suriakusumah Adinata (1836 – 1882) adalah salah seorang pelopor pendiri sekolah di Priangan. Bahkan ada sekolah yang dibangun atas biaya sendiri (1867), salah seorang gurunya bangsa Belanda (G. Warnaar).

Makna Monumen Lingga

Dibangun di tengah Alun-alun Sumedang yang teduh, monumen Lingga memiliki arti dan makna yang sarat nilai religius. Bentuk setengah bola dan bawahnya setengah kubus terbuat dari tembaga, memiliki arti bahwa manusia itu tidak sempurna, selalu ada kekurangannya. Hanyalah Allah yang maha sempurna.

Tangga pertama dibuat dari beton sebanyak tiga tingkat, diartikan sebagai rukun agama: iman, Islam, dan ikhsan. Tangga tujuh tingkat paling bawah diartikan hukum agama Islam: wajib, haram, wenang, batal, sunat, makruh dan sya'i.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading dan manusia wafat meninggalkan jasa. Jasad Pangeran Aria Suriaatmaja alias Pangeran Mekah, Pangeran Sadeli, memang telah musnah, tapi jasanya tetap mengalir terhadap rakyat Sumedang,

Berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun

Peninggalan benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang, sejak Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang dan Bupati-bupati yang memerintah Kabupaten Sumedang dahulu, merupakan koleksi yang membanggakan dan besar artinya bagi kita semua, terlebih bagi keluarga Sumedang.Kumpulan benda-benda tersebut disimpan di Yayasan Pangeran Sumedang sejak tahun 1955.

Timbullah suatu gagasan, ingin memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang khususnya dan masyarakat di luar Sumedang pada umumnya, bahwa di Sumedang dahulu terdapat kerajaan besar yaitu Kerajaan Sumedang Larang, dengan melihat benda-benda peninggalan Raja-raja tersebut dan sebagainya.

Gagasan tersebut ditanggapi dengan penuh keyakinan oleh keluarga, maka direncanakan membuat museum. Setelah diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, lima tahun setelah tahun 1968 baru terlaksana, tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga berdiri.

Museum tersebut diberi nama Museum Yayasan Pangeran Sumedang, dan dikelola langsung oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Pada tahun 1974, di Sumedang diadakan Seminar Sejarah oleh ahli-ahli sejarah se-Jawa Barat dan diikuti ahli sejarah dari Yayasan Pangeran Sumedang, dalam seminar tersebut dibahas nama museum Sumedang.

Diusulkan nama museum adalah seorang tokoh dalam Sejarah Sumedang, ternyata yang disepakati nama Raja Sumedang Larang terakhir yang memerintah Kerajaan Sumedang Larang dari tahun 1578 - 1601, yaitu Prabu Geusan Oeloen.

Kemudian nama museum menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan baru untuk memudahkan generasi baru membacanya.

Gedung yang dipergunakan untuk museum yaitu Gedung Srimanganti, Bumi Kaler, Gedung Gendeng dan Gedung Gamelan. Pada tahun 1980, Pemerintah melalui Dinas Jawatan Permuseuman dan Kepurbakalaan Kebudayaan Jawa Barat, mengulurkan tangan dan memugar Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler.

Pada hari Rabu tanggal 21 April 1982, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Haryati Soebadio, meresmikan dan menyerahkan kedua bangunan yang selesai dipugar kepada Yayasan Pangeran Sumedang dan bernaung di bawah Momenten Ordonnatie Nomor 19 Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238).

Letak Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung 45 kilometer, sedangkan jarak dari Cirebon 85 kilometer, jarak tempuh dari Bandung 1 jam, sedangkan dari Cirebon 2 jam.

Museum Prabu Geusan Ulun

Museum Prabu Geusan Ulun dikelilingi tembok/dinding yang tingginya 2,5 meter, dibuat pada tanggal 16 Agustus 1797.

Luas halaman Museum seluas 1,88 ha, dengan dihiasi taman-taman dan ditanami pohon-pohon langka.

Gedung yang berada di sekitarnya terdiri dari:

Srimanganti

Didirikan pada tahun 1706, masa pemerintahan Dalem Tumenggung Tanoemadja dari tahun 1706 - 1709.

Pendirian gedung tersebut direncanakan oleh Pangeran Panembahan yang memerintah dari tahun 1656 - 1706, yang pernah diserbu oleh laskar-laskar Cilikwidara cs dari pasukan gabungan Banten.

Sejak selesai dibangun, maka pemerintahan pindah ke daerah baru yang disebut Regol.

Sejak itu Srimanganti dijadikan gedung tempat tinggal dan kantor oleh para bupati tempo dulu. Sedangkan untuk keluarga dibangun Bumi Kaler.

Cadas Pangeran dan Kekejian Daendels

Tak banyak yang mengetahui bila jalan raya yang membentang antara Anyer, Banten dan Panarukan, Jawa TImur, itu menyimpan sejumlah peristiwa kelam dan berdarah pada awal pembuatannya. Boleh dikatakan, jalan itu dibangun dari keringat dan mayat bangsa Indonesia.

DI gerbang masuk Cadas Pangeran dari arah Bandung ada patung yang melukiskan adegan patriotik Pangeran Sumedang. Dengan gagah berani sang pangeran memegang tangan kanan Daendles dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya hendak menghunus kujang.

Adegan dramatis itu memang tidak begitu terabadikan secara visual pada patung tersebut. Namun, setidaknya dapat mengingatkan orang bahwa dalam pembuatan jalan Anyer-Panarukan yang spektakuler itu, Daendles alias Masgalak mengorbankan darah dan nyawa kaum pribumi.

Hanya Pangeran Sumedang Pangeran Kusumahdinata atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Kornel yang berani menentang keinginan panglima perang Belanda turunan Prancis itu. Pangeran tidak mau rakyatnya bekerja terlalu berat jika harus memahat gunung atau tertimbun longsor.

Sang pangeran tetap pada pendiriannya agar jalan itu dialihkan sedikit ke bagian selatan yang tanahnya tidak mudah longsor dan batuannya tidak terlalu keras.Keberanian Pangeran Sumedang yang kemudian diabadikan menjadi nama jalan berliku itu sampai sekarang yakni Cadas Pangeran, merupakan suatu yang mustahil dilakukan bangsa terjajah kepada penguasa yang menjajah. Perlawanan seperti itu akan berakibat panjang.

Pelakunya dapat langsung ditangkap dan dihukum mati, wilayah dan rakyatnya akan dihancurkan seperti yang terjadi pada Pangeran Diponegoro, rakyat Bonjol, Sukamanah Garut, dan sebagainya. Oleh karena itu, perlawanan Pangeran Sumedang sungguh luar biasa, apalagi hal itu dilakukannya secara langsung kepada orang nomor satu dan penggagas serta pelaksana pembuatan jalan pos sepanjang P. Jawa itu.

Adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels yang memprakarsai pembangunan jalan "maut" tersebut pada tahun 1809. Dahsyatnya, proyek jalan itu hanya membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Jalur Anyer-Panarukan itu dibangun mula-mula sebagai jalan raya pos yang menghubungkan Pulau Jawa pada tahun 1809.

Namun, keberhasilan Daendels itu tak terlepas dari penderitaan ratusan ribu warga Jawa yang disuruh kerja paksa atau rodi tanpa bayaran sesen pun. Tak terhitung lagi, ribuan pribumi yang tewas, baik yang melawan maupun meninggal dunia akibat kerja rodi.Maklum saja, Daendels terkenal dengan kekejamannya dan berlaku sangat keras, yang disukai oleh Kaisar Prancis Napoleón Prancis saat itu menguasai Kerajaan Belanda. Sebaliknya, bagi bangsa Indonesia, kekejian Daendels sangat dibenci hingga ia mendapat julukan "Mas Galak" atau "Mas Guntur". Julukan itu sesuai dengan tindak tanduknya yang kerap menekan kekuasaan raja-raja atau penguasa setempat, khususnya terhadap wong cilik. Walau begitu, sejumlah "inlader" akhirnya nekat menentang Daendels meski nyawa menjadi taruhan. Namun, tak seluruh rakyat memberontak terhadap kehendak "Si Tuan Besar" itu.Satu di antara yang menonjol adalah Peristiwa Cadas Pangeran. Betapa tidak, ribuan pekerja rodi yang meninggal paling banyak terjadi di kawasan antara Bandung-Sumedang sepanjang kurang lebih tiga km. Di daerah tersebut memang memiliki medan yang berbukit cadas dan rawan longsor. Bila tak hati-hati, banyak pekerja yang mati ketimbun tanah longsor maupun tertimpa batu-batu besar. Banyak pula yang terjerembab ke jurang selama pembangunan jalan itu. Belum lagi sejumlah binatang buas yang kerap memangsa beberapa buruh rodi yang keletihan di malam hari.Kabar mengenai ribuan penduduk Sumedang yang tewas akibat kerja rodi tentu membuat gusar penguasa setempat saat itu, yaitu Pangeran Kusumahdinata atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Kornel. Dia pun merasa terpanggil untuk membela rakyatnya dari tindasan Daendels. Pangeran Kornel segera mengutus beberapa orang kepercayaannya ke lokasi pembuatan jalan yang masih berupa hutan belantara, bercadas keras dengan berbagai binatang buas yang masih berkeliaran. Setelah meneliti keadaan di lapangan, orang-orang suruhan Pangeran Kornel mengungkapkan bahwa kondisi para pekerja paksa sangat memprihatinkan. Bahkan, mereka cuma mempergunakan peralatan atau perkakas yang tergolong sederhana untuk memapras tebing.

Selain kurang peralatan, hambatan lain dalam pembuatan jalan itu adalah perbekalan makanan yang tak mencukupi. Tak heran, buruh rodi banyak yang terjangkit sejumlah penyakit, seperti malaria. Gangguan binatang buas dan hawa dingin yang menusuk di malam hari, turut menambah kesengsaraan para pekerja.

Atas kenyataan itulah, Pangeran Kornel berencana secara terang-terangan melawan Daendels di hadapan para pekerja dan masyarakat Sumedang. Disusunlah rencana pemberontakan terhadap Mas Galak. Setelah rencana dianggap matang, Pangeran Kornel bersama sejumlah pengawalnya pergi ke lokasi kerja rodi tersebut. Dia pun sabar menanti kedatangan Daendels.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu datang juga. Di kejauhan tampak Daendels menunggang kuda dengan didampingi segelintir pasukannya. Daendels memang secara rutin kerap mengawasi pembuatan jalan di daerah bercadas tersebut. Pangeran Kornel mencegat rombongan Gubernur Jenderal yang kejam itu, tepatnya di Desa Ciherang.

Tentu saja Daendels kegirangan melihat kedatangannya disambut sendiri oleh penguasa setempat. Tanpa rasa curiga, dia segera mengulurkan tangan kepada Pangeran Kornel. Bukan kepalang terkejutnya Daendels, saat Pangeran Kornel menyambut ulurannya dengan tangan kiri. Tak cuma itu, penguasa Sumedang ini juga menghunus keris Naga Sastra di tangan kanannya.

Dengan pancaran mata yang tajam tanpa berkedip, Pangeran Kornel terus menatap lawannya. Sontak, keangkuhan Daendels luntur seketika. Dia pun terheran-heran dengan perlakuan dari Pangeran Kornel atau Bupati Sumedang itu. Setelah hilang rasa kagetnya, Daendels bertanya kepada Pangeran Kornel mengenai sikapnya itu.

Tanpa perasaan takut, Pangeran Kornel menjawab bahwa pekerjaan yang dibebankan kepada rakyat Sumedang terlalu berat. Setelah mengucapkan alasannya, Pangeran Kornel menantang Daendels duel satu lawan satu. Layaknya seorang ksatria, Pangeran Kornel berkata bahwa regent (bupati) Sumedang yang bernama Pangeran Kusumahdinata lebih baik berkorban sendiri ketimbang harus mengorbankan rakyat Sumedang yang tak berdosa.

Mendengar alasan yang tegas dan jelas tersebut, serta sadar akan situasi yang tidak menguntungkan baginya, Daendels pun luluh keberaniannya. Kemudian Daendels berjanji akan mengambil alih pekerjaan pembuatan jalan oleh Pasukan Zeni Belanda. Sedangkan rakyat Sumedang diperkenankan hanya membantu saja.Ternyata itu hanyalah akal-akalan Daendels. Buktinya, beberapa hari kemudian, dia membawa ribuan pasukan Kompeni dan hendak menumpas perlawanan Pangeran Kornel. Pertempuran pun berkecamuk di sana. Rakyat Sumedang serta merta angkat senjata membantu junjungan mereka. Lantaran kekuatan yang tak seimbang, akhirnya tentara penjajah berhasil memadamkan pemberontakan Pangeran Kornel dengan memakan korban yang tak sedikit. Sedangkan Pangeran Kornel yang gagah berani itu gugur di ujung bedil pasukan Belanda.

Semenjak itulah, jalan yang melintasi medan berbukit itu dinamakan Cadas Pangeran. Ini untuk mengenang keberanian Pangeran Kornel yang rela gugur dalam memperjuangkan atau membela kepentingan rakyat Sumedang yang sangat dicintainya.

Gedung Bengkok / Gedung Negara

Didirikan pada tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 1836 - 1882. Gedung tersebut didirikan di atas tanah beliau untuk keperluan upacara-upacara resmi, peristirahatan bagi tamu-tamu dari Jakarta jika berkunjung ke Sumedang.

Halaman Gedung Bengkok cukup luas, di depan dibuat taman-taman dan ditanami dengan pelbagai buah-buahan. Di bagian barat didirikan Panggung Gamelan untuk menyimpan gamelan-gamelan kuno. Di bagian belakang sebelah barat, sekarang SMP Negeri 2 Sumedang memajang istal kuda dan tempat menyimpan kereta-kereta, diantaranya Kereta Naga Paksi. Sedangkan di belakang gedung dibuat kolam yang besar disebut Empang, yang kedalamannya setinggi bambu dan berbentuk kerucut.

Empang

Di tepi Empang, dibangun Bale Kambang, tempat istirahat bagi keluarga para Bupati dan Tamu-tamu Agung, sambil memancing ikan dengan dihibur Gamelan Buhun atau Degung.Masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja dari tahun 1882 - 1919, ikan yang ada di Empang diganti dengan Ikan Kancra, sehingga merupakan peternakan ikan Kancra yang beratnya bisa mencapai 10 atau 15 kilogram.

Ikan Kancra tersebut diambil setiap bulan Mulud, untuk keperluan pesta Maulid Nabi Muhammad SAW yang dibagikan kepada fakir miskin dan sebagainya.

Bumi Kaler

Didirikan tahun 1850, masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih) dari tahun 1836 - 1882.

Berhadapan dengan Bumi Kidul, sayangnya pada masa pemerintahan Pangeran Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekkah) Bumi Kidul dibongkar karena lapuk dimakan umur.

Bumi Kaler dibuat keseluruhan dari kayu jati, dan di atas tiang bentuknya khas rumah orang Sunda.

Dengan ruangan-ruangan dan kamar-kamar yang luas, sedangkan jendela dan pintu-pintunya tinggi-tinggi.

Gedung Yayasan Pangeran Sumedang

Didirikan tahun 1955, Yayasan Pangeran Sumedang yang mengelola seluruh Wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Museum Prabu Geusan Ulun juga makam-makam seperti :

Makam Sunan Pada - Karedok

Makam Nyai Mas Gedeng Waru - Cigobang

Makam Prabu Gajah Agung - Cicanting, Kampung Sukamenak, Kecamatan Darmaraja

Makam Prabu Lembu Agung - Cipaku, Kecamatan Darmaraja

Gedung Gendeng

Didirikan tahun 1850 dan dipugar tahun 1950. Gedung tersebut aslinya dibuat dari :

Lantai merah

Dinding bilik

Tiang kayu jati

Atap genting

Tempat menyimpan barang-barang pusaka, senjata-senjata dan gamelan kuno.

Gedung Gamelan

Didirikan tahun 1973 oleh Pemerintah Daerah Sumedang atas sumbangan dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bapak H. Ali Sadikin.

Gedung tersebut diperuntukkan tempat menyimpan gamelan-gamelan dan tempat berlatih tari-tarian.

Lumbung Padi

Semula Lumbung Padi terletak di luar benteng di tepi Empang, demi keamanan kemudian dipindahkan ke dalam komplek di dalam benteng.

Lumbung tersebut dipergunakan tempat menyimpan padi hasil dari sawah-sawah wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja

Padi tersebut dipergunakan untuk menyumbang wargi-wargi yang tidak mampu, sampai sekarang tercatat sejumlah 180 keluarga yang disumbang, besarnya hampir 12 ton per bulan.

Dan keperluan pemeliharaan pusaka-pusaka, wakaf dan pelestarian seluruh wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja.R. Yudhi S Suradimadja

 

tulis_artikel

Customer Support

Status YM Status YM Status YM

phone 022 7227 2000

hp 085 793 300 116

 085 216 873 178hp

bb 238648BA

bb 3267D4AD

questioner

aman

aman

 

 pos jne tiki

fb logo twitter logo map logo

DATA BANK (Transaksi)

mandiri logo

No. Rek : 1320010167667

a.n. : Irfan Taufik

Bank : Mandiri Setiabudhi, Bandung

bca logo

No. Rek : 2332493427

a.n. : Irfan Taufik

Bank : BCA Setiabudhi, Bandung

bri logo

No. Rek : 040801004845509

a.n. : Dea Rokhmatun Iradewa

BRI Setiabudhi, Bandung