Gunem catur : Militer Pajajaran

Tirta Guntara

Sampurasun, punten simkuring bade naros

 Dupi prajurit di karajaan pajajaran kumaha?

Senjata anu digunakeun naon wae?

Taktik perangna kumaha?

Hatur nuhun.

Fauzi Salaka

Akang teu acan mendak ngeunaan prajurit Pajajaran,oge anu di taroskeun ku Ayi. Mung dina Pustaka Kertabumi I/2, Prabu Siliwangi midamel Kasatrian (asrama prajurit) sareng nyusun angkatan perang. Dina taun 1513 aya urang Postugis make 4 kapal.Kajadian ieu di catet ku Tom Peres anu milu dina rombongan. Ceuk Peres, palabuhan Sunda waktu harita nyaeta; Banten,Pontang, Cigede, Tamgara (muara Cisadane), Kalapa, Karawang jeung Cimanuk. Nurutkeun Peres, Sunda teh "nagri ksatria jeung pahlawan laut". Tiasa disawang ku urang yen prajurit darat boh laut sakitu wisesana.

Tirta Guntara

Hatur nuhun kang fauzi, kamari abdi milarian ksatria pajajaran di google teh kalahkah kaluar TNI. teras nembe kamari abdi mendakan taktikna di wacana nusantara. sapertos kieu cenah:

Bagaimana strategi orang Sunda dulu berperang, belum banyak dibahas. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian hanya menyebutkan nama-nama strategi perang yang diterapkan, paling tidak sampai abad ke-16. Dalam Sanghyang Siksakandang Karesian disebutkan, "Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, sucimuka, brajapanjara, asumaliput, meraksimpir, gagaksangkur, luwakmaturut, kidangsumeka, babahbuhaya, ngalinggamanik, lemahmrewasa, adipati, prebusakti, pakeprajurit, tapaksawetrik, tanyalah panglima perang." (Danasasmita, dkk., 1987). Tulisan ini mencoba mendeskripsikan strategi perang dimaksud. Mudah-mudahan bisa jadi bahan kajian yang lebih mendalam untuk berbagai pemanfaatan.

1. Makarabihwa; cara mengalahkan musuh dengan tidak berperang. Mengalahkan musuh dari dalam musuh itu sendiri, dengan menggunakan kekuatan pengaruh. Praktik merusak kekuatan musuh dari dalam agar merasa kalah sebelum berperang.

2. Katrabihwa; posisi prajurit saat menyerang musuh, ada yang ditempatkan di atas, biasanya dengan menggunakan senjata panah, dan prajurit yang di bawah, biasanya menggunakan tombak dan berkuda.

3. Lisangbihwa; sebelum perang dimulai, Panglima Perang/Hulu Jurit mengumpulkan pasukan tempurnya agar seluruh prajurit berteguh hati menjadi pasukan yang berani dan bersemangat berperang untuk mengalahkan musuh walau pun kekuatan lebih kecil.

4. Singhabihwa; mengalahkan pertahanan musuh dengan cara menyusup. Para penyusup merupakan tim kecil yang jumlahnya hanya lima orang, terdiri atas ahli perang, ahli strategi, dan ahli memengaruhi musuh. Musuh terpengaruh oleh strategi yang kita lancarkan sehingga pada tahap ini musuh hancur oleh pikirannya sendiri. Waktunya sangat lama.

5. Garudabihwa; memusatkan kekuatan pasukan pada posisi yang tersebar di beberapa titik penting yang telah ditentukan untuk pertempuran. Kekuatan di setiap titik jumlahnya 20 orang. Dengan simbol-simbol khusus, prajurit yang tersebar itu akan menyerang secara berbarengan dan sekaligus, kemudian menyebar kembali untuk mempersiapkan penyerangan berikutnya.

6. Cakrabihwa; menyusupkan beberapa orang prajurit ke benteng pertahanan musuh dengan cara rahasia dengan tujuan utama untuk menyusupkan persenjataan yang kelak akan digunakan oleh pasukan saat bertempur. Mereka harus prajurit yang sangat terlatih dan mengetahui medan serta mengetahui cara-cara penyusupan.

7. Sucimuka; upaya pembersihan musuh setelah perang usai sebab biasanya masih ada musuh yang berdiam di persembunyian. Para prajurit harus mengetahui daerah-daerah yang pantas digunakan sebagai tempat berlindung dan menjadi persembunyian musuh yang sudah tercerai-berai. Prajurit harus mengetahui jalan-jalan yang dijadikan tempat untuk meloloskan diri. Pembersihan ini sangat penting agar musuh tidak menghimpun kekuatannya kembali.

8. Brajapanjara; mendidik beberapa orang musuh agar bekerja untuk pihak kita. Setelah dianggap tidak membahayakan, mereka dilepas kembali ke daerahnya untuk dijadikan mata-mata. Orang itulah yang akan mengirimkan informasi mengenai kekuatan musuh, seperti jenis dan jumlah senjata yang mereka miliki, dan strategi perang apa yang akan digunakan. Harus sangat hati-hati saat mendidiknya.

9. Asumaliput; setiap prajurit harus mengetahui tempat berlindung atau bersembunyi serta tidak akan diketahui musuh, seperti di dalam gua, tetapi harus pandai melihat situasi.

10. Meraksimpir; cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih rendah, sedangkan musuh berada di daerah yang lebih tinggi. Bila posisinya demikian, pasukan dipersenjatai dengan tombak dan berkuda.

11. Gagaksangkur; cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih tinggi, sedangkan musuh berada di bawah. Cara mengalahkan musuh dari atas, seperti cara meloncat atau menghadang.

12. Luwakmaturut; gerakan untuk memburu musuh yang kabur dari lapangan pertempuran. Prajurit harus tahu cara pengejaran yang paling cepat di berbagai medan yang berbeda. Pengejaran musuh harus sampai di tempat persembunyiannya, apakah di air, atau yang lari ke dalam hutan.

13. Kudangsumeka; cara menggunakan pedang yang lebih kecil. Bila menyusup ke daerah musuh, prajurit harus mengetahui cara-cara menyembunyikan pedang/senjata itu agar tidak diketahui musuh.

14. Babahbuhaya; cara menghimpun kekuatan prajurit pada saat pasukan tertekan dan terjepit musuh, seperti cara/upaya memulihkan mental, semangat, dan kekuatan prajurit. Dilatihkan ke mana harus berlari, jangan sampai berlari ke daerah kekuatan musuh. Cara bagaimana bila saat berlari ada musuh di depan, atau musuh yang terus mengejar, serta cara bagaimana memilih tempat perlindungan. Bila terlihat aman, prajurit merundingkan upaya penyelamatan dan merencanakan penyerangan balik.

15. Ngalinggamanik; prajurit yang sudah terlatih dipersenjatai dengan senjata rahasia, atau senjata keramat kerajaan, seperti tombak. Prajurit dilatih untuk mengendalikan senjata keramat itu, bila tidak, bisa-bisa prajurit itu yang terpental atau pingsan.

16. Lemahmrewasa; cara berperang di hutan belantara atau di tempat-tempat yang rimbun, terutama ketika pasukan dalam keadaan terdesak dengan senjata pasukan yang sudah tidak mampu melayani kekuatan persenjataan musuh. Semua potensi yang bisa digunakan sebagai senjata dimanfaatkan, seperti batu atau batang pohon.

17. Adipati; teknik untuk melatih prajurit yang akan dijadikan prajurit dengan kemampuan khusus. Pasukan komando yang memunyai kemampuan perseorangan yang tangguh dan dapat diandalkan.

18. Prebusakti; setiap prajurit dibekali latihan keahlian khusus seperti tenaga dalam agar senjata lebih berisi, lebih matih, punya kekuatan mengalahkan musuh secara luar biasa.

19. Pakeprajurit; sering kali raja menitahkan untuk tidak berperang. Prajurit terpilih, yaitu prajurit yang sudah terlatih untuk berunding, mengadakan perundingan-perindingan sehingga musuh dapat dikalahkan tanpa berperang. Namun, Panglima Perang/Sang Hulu Jurit, sesungguhnya menghendaki kemenangan dengan cara berperang.

20. Tapaksawetrik; cara-cara berperang di air: bagaimana cara mengelabui musuh agar tidak mengetahui pergerakan prajurit, serta cara-cara menggunakan senjata di air, seperti di sungai. Prajurit harus terlatih untuk mendekati musuh melalui jalan air.

 

Senjata

Persenjataan yang digunakan dalam perang pada zaman itu pada umumnya sudah berupa senjata dari logam, apakah itu tombak atau pun pedang. Peninggalan senjata yang ditemukan di beberapa tempat di Jawa Barat, masih dapat dilihat di Museum Nasional di Jakarta (Lihat Krom, "Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat 1914"). Sementara itu, kendaraan yang digunakan saat bertempur pada umumnya adalah kuda. Tulisan ini merupakan upaya pendahuluan untuk mengetahui deskripsi dari setiap istilah strategi perang yang terdapat dalam Sanghyang Siksakandang Karesian.

Ujepp Ajs

PRAJURIT PADJADJARAN : Baladia ONOM Galuh, anu dipimpin ku Prabu Selangkuning...

    Tirta Guntara

    Tah geuningan aya oge anu terangeun. Hatur nuhun Kang Ujepp.

     Tapi asa pernah ngadangu onom teh sabangsa lelembut di rawa onom. Leres teu?

    Fauzi Salaka

    Sok atuh Ayi Ujepp.. sing lengkep..akang oge hoyong uninga.......

    Tirta Guntara

     

    Kang Fauzi, menurut http://durachman.wordpress.com/2008/02/06/misteri-rawa-onom/

    Prabu Selang Kuning, penguasa Kerajaan Pulo Majeti ini,

    dulunya manusia biasa juga. Dia adalah patih kepercayaan

    Kerajaan Galuh.

    Oleh raja diperintah membangun wilayah baru di daerah

    Pulo Majeti. Patih lancang Kuning menerima perintah

    ini sebaik-baiknya sehingga di Pulo Majeti yang semula

    rawa, berubah menjadi istana hebat.

    Namun Selang Kuning tak mau menyerahkan hasil karyanya

    kepada rajanya, melainkan dia mengangkat dirinya sendiri

    menjadi penguasa Kerajaan Pulo Majeti.

    Untuk menghindarkan percekcokan dengan dengan Kerajaan

    Galuh, maka Prabu Selang Kuning mengajak seluruh rakyatnya

    pindah ke alam lain. Itulah bangsa onom.

    .....................................................................cag

     

    tulis_artikel

    Customer Support

    Status YM Status YM Status YM

    phone 022 7227 2000

    hp 085 793 300 116

     085 216 873 178hp

    bb 238648BA

    bb 3267D4AD

    questioner

    aman

    aman

     

     pos jne tiki

    fb logo twitter logo map logo

    DATA BANK (Transaksi)

    mandiri logo

    No. Rek : 1320010167667

    a.n. : Irfan Taufik

    Bank : Mandiri Setiabudhi, Bandung

    bca logo

    No. Rek : 2332493427

    a.n. : Irfan Taufik

    Bank : BCA Setiabudhi, Bandung

    bri logo

    No. Rek : 040801004845509

    a.n. : Dea Rokhmatun Iradewa

    BRI Setiabudhi, Bandung